Ketika beberapa pemimpin negeri Islam diberi kesempatan untuk turut dalam acara penggantian kain penutup Ka’bah, tidak sedikit yang berkeinginan untuk melakukan shalat dalam ruangan Ka’bah. Padahal Nabi sendiri tidak pernah melakukan shalat di …..
Nabi Tidak Shalat Dalam Ruangan Ka’bah
Bagaimana Jin Bisa Tahu Tentang Kita ?
Tatkala kita mendatangi dukun, paranormal, peramal atau orang pintar, ia telah tahu siapa kita, apa pekerjaan dan asal daerah kita, bahkan ia tahu mengapa kita mendatanginya. Dan ketika menanyakan sesuatu, ia memberi petunjuk dan ternyata petunjuknya benar ! Kok bisa… ?
Kerumitan untuk menyadarkan orang-orang yang percaya kepada dukun, paranormal, kiyai atau orang pintar adalah, tatkala mereka menyaksikan satu kebenaran yang ditampilkan oleh jin/syaithan melalui dukun, paranormal atau kiyai tersebut – sebagaimana Aisyah juga mengalami dan menyaksikannya. Hanya saja, bagi masyarakat awam, satu kebenaran itu justru dijadikan dalil pembuktian, bahwa sang dukun, paranormal, orang pintar, atau kiyai yang bersekutu dengan jin, memang mampu melihat hal-hal yang ghaib.
Untuk menjelaskan hal ini, maka ketahuilah bawa setiap anak manusia lahir akan lahir bersamanya qorin (jin). Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya dan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, menyebutkan dari Ibnu Mas’ud ia berkata Rasulullah bersabda :
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ قَرِيْنُهُ مِنَ الْجِنِّ
Tidak ada seorang pun dari kalian melainkan padanya diwakilkan seorang teman (qorin) dari bangsa jin.
Qarin ini tentu saja tahu persis perjalanan hidup kita. Ketika kita memperbincangkan masalah, atau problematika hidup, atau peristiwa yang sedang kita hadapi. Sebab selamanya ia bersama kita. Apakah ini yang sering disebut sebagai teman sekelahiran, Wallahu a’lam. Sebab itu, para sahabat selalu berupaya melindungi anak dan keturunan mereka dari kemungkinan diganggu jin sebagaimana Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadits, “Bacalah ayat berikut jika kalian menginginkannya.
Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaithan yang terkutuk. (Qs. Ali Imran : 36).
Para qorin memiliki hubungan antara satu dengan yang lain, dengan cara mereka sendiri, sebagaimana kita juga dapat membangun hubungan antara sesama kita.
Seorang dukun, orang pintar, paranormal, kiyai atau ustadz yang telah bersekutu dengan jin, jika ingin tahu tentang orang yang datang kepadanya, maka qorinnya diperintahkan untuk mencari informasi tentang orang yang datang tersebut, melalui qorin orang yang datang tersebut. Maka jangan heran, tatkala kita mendatangi dukun, paranormal, peramal atau orang pintar, ia telah tahu siapa kita, apa pekerjaan dan asal daerah kita, bahkan ia tahu mengapa kita mendatanginya, karena qorin-nya telah memberi tahu sebelumnya apa dan siapa kita.
Ketidak tahuan akan hal inilah yang membuat banyaknya masyarakat memiliki kepercayaan berlebihan terhadap kemampuan jin. Hal ini ditunjukkan dengan adanya anggapan bahwa jin mengetahui perkara yang ghaib. Ini jelas sebuah kesesatan dan kebodohan. Dengan satu kebenaran yang diperlihatkannya itu, manusia menjadi terkecoh. Mereka lalu mulai bertanya tentang barang yang hilang, cara memberhasilkan usaha, cara agar mendapatkan jabatan, jodoh dan lain sebagainya. Bahkan sampai tentang masa depan mereka pun, mereka merasa perlu bertanya. Maka lahirlah seratus dusta.
Marah, Mengapa Engkau Jadi Pemarah ?
Kecintaan yang bersangatan terhadap kemegahan, pujian dan segala yang berbau kepada pemuasan hawa nafsu, pastilah menumbuhkan banyak kebutuhan. Sehingga tidaklah dirimu mampu membedakan, manakah kebutuhan dan manakah keinginan. Lalu tumbuhlah kecintaanmu pada apa yang telah engkau miliki. Maka kehilangan yang dicintai atau perampasan atas apa yang dicintai, tentulah melahirkan kebencian. Dan kebencian adalah dasar tumbuhnya amarah.
Dengan menyibukkan diri kepada apa yang dapat memuaskan nafsu akan melahirkan kecintaan terhadap dunia secara amat bersangatan. Itu bermakna, engkau akan banyak mengalami perasaan amarah !
MANUSIA YANG BODOH adalah manusia yang mempersiapkan diri menjadi PEMARAH !
Hidup Hanya Satu hari
Sungguh perilaku melambat-lambatkan urusan ibadah adalah sebab masih panjangnya angan-angan dan mengira hidup masih lama. Padahal hidup hanya sehari ! Firman Allah :
Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Qs (6) Al An’am : 60
Allah menyebut yatawaffakum (Dia mewafatkan) dengan tidur saat malam tiba. Berdasarkan firman Allah tersebut, ternyata hidup hanya sehari ! Ketika malam tiba, kita pun diwafatkan. Karena ia hanya akan membangkitkan (membangunkan) dari kematian (tidur) bagi yang belum sempurna umurnya. Adakah kita tahu berapa jatah umur kita sesungguhnya. Bila tidak tahu, maka jadikanlah hari ini seolah hari terakhir dalam hidupmu.
Duniamu kita akan segera berganti, hidup akan segera berubah dan hari ini akan sirna !
Dari KITAB DARIMI HADIST NO – 645 Telah mengabarkan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Umar bin Al Kumait telah menceritakan kepada kami Ali bin Wahab Al Hamdani telah menceritakan kepada kami Adl Dlahak bin Musa ia berkata: “Sulaiman bin ‘Abdul Malik melewati kota Madinah dan ingin menuju kota Makkah, lalu ia tinggal di Madinah beberapa hari, kemudian ia berkata: ‘Apakah di Madinah ada seorang yang pernah bertemu salah seorang sahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam? ‘, mereka menjawab: ‘Ada, Abu Hazim wahai amirul mukminin.” Lalu ia mengutus seseorang untuk menjemput Abu Hazim. Tatkala Abu Hazim sampai ke Sulaiman bin’Abdul Malik. Sulaiman berkata: ‘Wahai Abu Hazim, Mengapa kita membenci kematian? ‘, Abu Hazim menjawab: ‘Karena kita menghancurkan akhirat dan membangun dunia, sehingga kalian membenci untuk berpindah dari pembangunan menuju penghancuran’. Sulaiman berkata: ‘Kamu benar, wahai Abu hazim, bagaimana kita besok menghadap Allah subhanallahu wa ta’ala,? ‘, Abu Hazim menjawab: ‘Adapun orang yang baik, ia mendatangi Allah subhanallahu wa ta’ala seperti orang yang sekian lama tidak bertemu keluarganya, sedangkan orang yang jahat, ia seperti budak yang lari mendatangi tuannya’, Mendengar perkataan ini Sulaiman menangis, ia bertanya: ‘Aku bersumpah, apa bekal kita di sisi Allah subhanallahu wa ta’ala? ‘, Ia menjawab: ‘Sesuaikan amal perbuatanmu dengan Kitab Allah subhanallahu wa ta’ala. Lalu ia bertanya: ‘Di ayat manakah aku dapat mendapatinya? ‘, ia menjawab:Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan, dan Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Qs (82) Al Infithaar : 13-14
Sungguh kita hanya memiliki 3 masa, yakni masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Caci dan cercalah sesuka hati, marahlah sekuat mampu dan berteriaklah sekeras yang bisa, tangisilah sepuas-puasnya ; namun masa lalu telah berlalu, tiada akan pernah kembali.
Untuk masa depan… susun dan buatlah perencanaan yang tepat dan terukur. Buat berbagai metoda dan sistim yang memiliki tingkat aplikasi yang bernilai plus. Persiapkan strategi yang handal dan memiliki daya terobosan yang teruji secara teoritis dan empiris, tapi siapa yang menjamin engkau besok masih hidup ?
Kita hanya punya hari ini, itupun tinggal sedikit lagi, karena hari telah menjelang petang.
Khalil Gibran (Penyair-Beirut) berkata dalam syairnya: Aku akan melewati jalan ini hanya sekali. Karenanya setiap perbuatan baik yang dapat Aku perlihatkan kepada siapapun, biarlah saya melakukannya sekarang. Jangan biarkan aku menunda dan jangan biarkan aku mengabaikannya…Karena mungkin Aku tidak akan melewati jalan ini lagi … !!!
Dari ‘Adhi bin Hatim ra, bahwa Nabi SAW menyebut neraka, lalu memalingkan mukanya dan mohon berlindung dari neraka. Kemudian beliau menyebut sekali lagi, lalu memalingkan mukanya dan mohon perlindungan dari neraka, kemudian beliau bersabda, “Peliharalah dirimu dari neraka, walaupun dengan memberi sebelah kurma. Siapa yang tidak sanggup hendaklah dengan perkataan yang baik” Hr. Muslim
Maka selamatkanlah dirimu wahai saudaraku, karena waktu hidupmu hanya tinggal beberapa saat lagi. Perbuatlah kebaikan sekarang juga dan jangan biarkan engkau menundanya, karena kita tidak tahu, jangan-jangan amalmu hari ini meski hanya sedikit, ini pulalah yang menjadi pemberat amal kebaikanmu, sehingga Allah berkenan menghantarkanmu ke syurga-Nya.
Tahanlah dirimu saat ini saudaraku, dari berbuat yang jahat, menimbulkan cedera pada amal baikmu, atau perbuatan buruk yang mungkin dirimu anggap hanya masalah kecil. Sebab siapa tahu, jangan-jangan amal burukmu hari ini, yang engkau anggap kecil itu, itulalah yang membuat timbangan amal keburukan lebih berat dari timbangan amalk kebaikan, sehingga Allah melemparkanmu ke dalam neraka-Nya.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. Qs. (99) Adz Zalzalah : 7-8.
Tentang Jin : Jin Tahu Satu Kebenaran Tetapi Dibalut Seratus Dusta
Berdasarkan hadits :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّ الْكُهَّانَ كَانُوْا يُحَدِّثُوْنَنَا بِالشَّيْءِ فَنَجِدُهُ حَقًّا قَالَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقْذِفُهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ وَيَزِيْدُ فِيْهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ
Dari ’Aisyah , katanya : ”Aku pernah bercerita kepada Rasulullah , bahwa para tukang tenung berkata begini dan begitu. Kami lihat kenyataannya memang benar”. Berkata Nabi , ”Kata-kata yang benar itu tertangkap oleh bangsa jin, lalu dibisikkannya ke telinga tukang tenung dan ditambah-tambahnya dengan seratus dusta Hr. Muslim
عَنْ عَائِشَةَ سَأَلَ أُنَاسٌ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسُوْا بِشَيْئٍ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ فَإِنَّهُمْ يُحَدِّثُوْنَ أَحْيَانًا الشَّيْءٍ يَكُوْنُ حَقًّا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ قَرَّ الدَّجَاجَةِ فَيَخْطَفُهَا فِيْهَا أَكْثَرُ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ
Dari ‘Aisyah , katanya : ”Orang banyak bertanya kepada Rasulullah tentang praktek tukang-tukang tenung. Jawab beliau : ”Mereka itu tidak benar !”. Tanya mereka pula, ”Kadang apa yang mereka katakan itu memang benar terjadi. Bagaimana itu ?” Jawab Rasulullah : ”Ucapan yang benar (dari langit) terdengar oleh bangsa jin, lalu dibisikkannya ke telinga tukang – tukang tenung seperti ayam betina. Dan mereka campur dengan seratus kebohongan, bahkan lebih”. Hr. Muslim
Hadits di atas menjelaskan, Rasulullah berkata bahwa jin/syaithan bisa saja berkata benar, karena mereka mendapat berita dari langit. Akan tetapi satu kebenaran yang mereka peroleh selalu dibalut dengan seratus kebohongan. Itu sebab mereka lebih dikenal sebagai pembohong.
Maka dukun, paranormal, orang pintar atau para peramal adalah pembohong. Hanya saja tidak ada yang berani mengungkapkan kebohongan para dukun tersebut, karena mengungkapkan kebohongan mereka sama saja menelenjangi diri sendiri. Bukankah kepergiannya menjumpai mereka telah merupakan tindakan bodoh. Lalu siapa yang mau mengakui bahwa ia baru saja dibodohi.
Oleh : Muhammad Nasir Siregar (Sayonara Siregar)